Manajemen Kelas

 Muhammad Haidir (11901037)


Secara etimologi kata manajemen berasal dari bahasa Inggris yaitu management” yang berarti “pengelolaan, ketatalaksanaan” (Djamarah dan Zain 2002, hal.196). Sedangkan secara terminology manajemen adalah suatu proses kegiatan usaha mencapai tujuan tertentu melalui kerja sama dengan orang lain. Pengertian manajemen menurut para ahli antara lain:

1.       James A. F. Stonner dalam Atmodiwirio (2005, hal. 5) manajemen adalah “proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan”.

2.       Handayaningrat (1993, hal. 10) mendefinisikan manajemen adalah “pemanfaatan sumber-sumber yang tersedia atau yang berpotensial di dalam pencapaian tujuan”.

Jadi, secara umum manajemen berdasarkan pengertian di atas adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain yang merupakan bawahan untuk melakukan sesuatu atau pekerjaan dalam rangka mencapai tujuan organisasi melalui kerjasama antara bawahan dengan pimpinan sesuai dengan ketersediaan sumber daya.

B.     Pengertian Kelas

Kamus Besar Bahasa Indonesia kelas berarti “ruang tempat belajar di madrasah” (2005, hal. 529). Menurut Aqib, “kelas bukan wujud ruangan tetapi sekelompok peserta didik yang sedang belajar, kelompok orang yang sedang belajar dapat kerja di laboratorium, lapangan olahraga, workshop dan lain-lain” (Aqib 2006 , hal. 12). Jadi, dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan kelas adalah sekelompok orang yang belajar tentang materi tertentu dengan tempat dimana saja.

C.     Pengertian Manajemen Kelas

Manajemen kelas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005, hal. 708) adalah “manajemen untuk mencapai tujuan pengajaran di kelas supaya teratur’. Menurut (Pidarta 1990, hal. 5). Manajemen kelas ialah aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat untuk kepentingan belajar kelas itu agar hasil belajar yang optimal dapat dicapai. Sumber-sumber pendidikan yang dimaksud ialah orang-orang yang membantu para siswa belajar seperti instruktur, dan sebagainya, materi pelajaran, media belajar, lingkungan belajar, sarana atau fasilitas belajar, dan informasi yang bertalian dengan kelas itu. Sumber-sumber inilah yang dicari dan dipadukan untuk kepentingan kelas itu.

Jadi, dengan demikian manajemen kelas menunjukkan kepada kegiatan-kegiatan yang menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar. Hal tersebut akan terjadi bila kita lebih dahulu menciptakan kebaikan agar untuk mendapatkan kebaikan dari apa yang telah kita lakukan. Sebab, tidak menutup kemungkinan apa kita lakukan dengan terbaik akan berdampak baik terhadap apa yang akan kita lakukan.

D.    Tujuan Manajemen Kelas

Tujuan manajemen kelas ada dua yang pertama adalah tujuan umum. Tujuan umum manajemen kelas adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas kelas bagi bermacammacam kegiatan belajar mengajar agar tercapai hasil belajar yang baik. Sedangkan tujuan manajemen kelas yang kedua adalah tujuan khusus. Tujuan khusus manajemen kelas adalah mengembangkan kemampuan siswa bekerja, belajar serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan. (Nawawi 1989, hal 116).

Jadi, dapat dipahami bahwa tujuan manajemen kelas adalah upaya untuk mendayagunakan potensi kelas. Berhubung kelas mempunyai peranan dan fungsi tertentu dalam menunjang keberhasilan proses edukatif, maka hal itu dapat memberikan dorongan dan rangsanan terhadap anak didik untuk belajar. Dalam hal ini, guru harus mampu mengelola situasi dan suasana kelas dengan sebaik-baiknya. Intinya adalah agar setiap anak dapat bekerja dengan tertib sehingga tercapainya tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.

E.     Fungsi Manajemen Kelas

Berikut ini akan diuraikan empat fungsi manajemen tersebut secara garis besar, yaitu:

1.      Perencanaan (Planning)

Planning artinya merencanakan segala kegiatan dan aktivitas yang menyangkut penentuan tujuan-tujuan yang hendak dicapai selama masa yang akan datang dan apa yang harus diperbuat agar dapat mencapai tujuan-tujuan itu dengan tepat dan sesuai dengan harapan dan rencana yang telah ditetapkan. Perencanaan adalah proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. Disebut sistematis karena perencanaan itu dilaksanakan dengan menggunakan prinsifprinsif tertentu. Prinsip-prinsip tersebut mencakup proses pengambilan keputusan, penggunaan pengetahuan dan teknik secara ilmiah, serta tindakan atau kegiatan yang terorganisasi.

2.      Pengorganisasian (organizing)

Organizing artinya mengkordinir pengelompokan dan menentukan serta memberikan kegiatan penting serta memberikan kekuasaan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan pada setiap bagian-bagian yang telah dibentuk lewat perencanaan yang telah diakomodir dengan rapi dan sistematis oleh setiap elemen pemegang kebijakan. Menurut Fremont E. Kast dan James E. Rosenzweig, terjemahan Hasyimi Ali (1990, hlm. 576-577), mendapatkan orang dan sumber daya yang sesuai belum menjamin efektivitas dan efisiensi organisasi. Manajer juga bertugas mengembangkan dan memelihara suatu struktur untuk melaksanakan rencana yang telah ditetapkan dan mencapai sasaran yang relevan. Tugas manajer juga meliputi membagi pekerjaan diantara berbagai komponen dan kemudian mengintegrasikan hasilnya.

3.      Pelaksana (actuating)

Menurut The Liang Gie didalam bukunya Sayiful Sagala (2009, hal. 64) actuating yang diartikan sebagai penggerakan dan bimbingan, merupakan aktifitas manajer alam memerintah, menugaskan, menjuruskan, mengarahkan, menuntun karyawan atau personel organisasi untuk melaksanakan pekerjaanpekerjaan dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Penggerakan atau pengarahan adalah identik pemberian motivasi kepada staf agar dapat melaksanakan tugas dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan. Dengan kata lain seorang manajer harus mampu memberikan dorongan dan semangat kepada seluruh personil yang ada dibawah tanggung jawabnya. Walaupun telah diketahui bahwa manajer mempunyai banyak pekerjaan.

Dari sekian banyak pekerjaan seorang manajer salah satunya adalah memberi motivasi kepada seluruh personil yang ada dibawah tanggung jawabnya dengan cara memberi pengarahan atau menyalurkan perilaku manusia kearahtercapainya tujuantujuan yang hendak dicapai sekaligus memberikan perbaikanperbaikan kepada setiap personil yang melakukan pelanggaran dan penyelewengan terhadap peraturan-peraturan yang telah ditetapkan bersama.

4.      Pengawasan (controlling)

Pengawasan adalah upaya mengontrol setiap elemen dan bagian-bagian yang ada dibawah tanggung jawabnya. Kegiatan mengontrol ini merupakan suatu kewajiban bagi setiap manajer. Karena dengan kontrol tersebut seorang manajer dapat mengetahui secara pasti seluruh kegiatan yang terjadi baik itu penyelewengan, penyalahgunaan wewenang dan tanggung jawab dan sebagainya. Selanjutnya dengan tujuan-tujuan, menentukan sebab-sebab penyimpangan-penyimpangan dan mengambil tindakan-tindakan korektif yang diperlukan.

F.      Problem Manajemen Kelas

Memelihara agar tugas–tugas itu dapat berjalan lancar. Problem manajemen kelas dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu problem individual dan problem kelompok. Munculnya problem individual disebabkan beberapa kemungkinan tindakan siswa seperti:

1.      Tingkah laku yang ingin mendapat perhatian orang lain.

2.      Tingkah laku yang ingin menujukkan kekuatan.

3.      Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain.

4.      Peragaan ketidak mampuan.

Sedangkan problem-problem kelompok yang muncul dalam kelas:

1.      Kelas kurang kohesif lantaran alasan jenis kelamin, suku, tingkatan social ekonomi, dan sebagainya.

2.      Penyimpangan dari norma-norma tingkah laku yang telah disepakai sebelumnya.

3.      Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya.

4.      “Membombang” anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok.

5.      Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari yang tengah digarap, semangat kerja rendah, kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru seperti gangguan jadwal guru terpaksa diganti sementara oleh guru lain. (Mudasir 2002, hal. 155).

G.    Pendekatan dalam Manajemen Kelas

Lahirnya interaksi yang optimal bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas (Rusydie 2011, hal. 48-55). Berbagai pendekatan tersebut adalah seperti dalam uraian berikut:

1.      Pendekatan Kekuasaan

Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Peranan guru disini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut kepada anak didik untuk mentaatinya. Di dalamnya ada kekuasaan dan norma yang mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam bentuk norma itu guru mendekatinya.

2.      Pendekatan Ancaman

Dari pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan kelas adalah juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Tetapi dalam mengontrol tingkah laku anak didik dilakukan dengan cara memberi ancaman, misalnya melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa.

3.      Pendekatan Kebebasan

Pengelolaan diartikan secara suatu proses untuk membantu anak didik agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan saja dan dimana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan anak didik.

4.      Pendekatan Resep

Pendekatan resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua problem atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daftar itu digambarkan tahap demi tahap apa yang harus dikerjakan oleh guru. Peranan guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep.

5.      Pendekatan Pengajaran

Pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan akan mencegah munculnya problem tingkah laku anak didik, dan memecahkan problem itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku anak didik yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik.

6.      Pendekatan Perubahan Tingkah Laku

Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku anak didik yang baik, dan mencegah tingkah laku yang kurang baik. Pendekatan berdasarkan perubahan tingkah laku (behavior modification approach) ini bertolak dari sudut pandangan psikologi behavioral. Program atau kegiatan yang yang mengakibatkan timbulnya tingkah laku yang kurang baik, harus diusahakan menghindarinya sebagai penguatan negatif yang pada suatu saat akan hilang dari tingkah laku siswa atau guru yang menjadi anggota kelasnya. Untuk itu, menurut pendekatan tingkah laku yang baik atau positif harus dirangsang dengan memberikan pujian atau hadiah yang menimbulkan perasaan senang atau puas.

7.      Pendekatan Sosio-Emosional

Pendekatan sosio-emosional akan tercapai secarta maksimal apabila hubungan antar pribadi yang baik berkembang di dalam kelas. Hubungan tersebut meliputi hubungan antara guru dan siswa serta hubungan antar siswa. Di dalam hal ini guru merupakan kunci pengembangan hubungan tersebut. Oleh karena itu seharusnya guru mengembangkan iklim kelas yang baik melalui pemeliharaan hubungan antar pribadi di kelas. Untuk terciptanya hubungan guru dengan siswa yang positif, sikap mengerti dan sikap ngayomi atau sikap melindungi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sistem Evaluasi

Strategi Pembelajaran