Manajemen Sekolah

Nama : Muhammad Haidir

Kelas  : PAI 4G

NIM    : 11901037

Makul : Magang 


“MANAJEMEN SEKOLAH”

 

A.    Pengertian  Manajemen Sekolah

Manajemen adalah pengkoordinasian dan penyerasian sumber daya melalui sejumlah input manajemen untuk mencapai tujuan atau untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Berbasis berarti “berdasarkan pada” atau “berfokuskan pada”. Sekolah adalah suatu organisasi terbawah dalam jajaran Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) yang bertugas memberikan “bekal kemampuan dasar” kepada peserta didik atas dasar ketentuan-ketentuan yang bersifat legalistik dan profesionalistik. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa “manajemen berbasis sekolah” adalah pengkoordinasian dan penyerasian sumber daya yang dilakukan secara otonomis oleh sekolah melalui sejumlah input manajemen untuk mencapai tujuan sekolah dalam bingkai pendidikan nasional, dengan melibatkan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan (partisipatif)

Manajemen Sekolah merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara efektif dan efisien untuk meningkatkan kinerja sekolah dalam pencapaian tujuan pendidikan baik tujuan nasional dan tujuan kelembagaan yang hasilnya bisa dilihat dari beberapa faktor sebagai indikator kinerja yang berhasil dicapai oleh sekolah. Kepala sekolah dituntut untuk mampu melaksanakan tugas dan fungsinya dalam mengelola berbagai komponen sekolah untuk mencapai tujuan sekolah yang dirumuskan. Kepala sekolah menunjukkan fungsinya sebagai dua peran besar yaitu peran sebagai manajer dan peran sebagai pemimpin.

Manajemen sekolah merupakan tindakan pengelolaan dan pengadministrasian sekolah. Manajemen sekolah berarti memberdayakan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan sekolah. Manajemen sekolah memiliki dua aspek, yaitu aspek manajemen eksternal dan manajemen internal. Manajemen internal sekolah meliputi perpustakaan, laboratorium, bangunan dan saran fisik lainnya, sumber dana, pelaksanaan evaluasi pendidikan, dan hubungan antar guru, murid. sedangkan manajemen eksternal meliputi hubungan dengan pihak luar sekolah seperti masyarakat, dewan pendidikan, dinas pendidikan maupun pihak lain yang terkait dengan fungsi sekolah.

 

B.     Ruang Lingkup Manajemen Sekolah

Yang dimaksud dengan ruang lingkup dalam tulisan ini adalah luasnya bidang manajemen sekolah. Pada awal telah disebutkan bahwa dilihat dari wujud permasalahannya manajemen sekolah secara substansial meliputi beberapa bidang antara lain:

1.      Bidang kurikulum (pengajaran).

2.      Bidang kesiswaan.

3.      Bidang personalia yang mencakup tenaga edukatif dan tenaga administrasi.

4.      Bidang sarana yang mencakup segala hal yang menunjang secara langsung pada pencapaian tujuan.

5.      Bidang prasarana, mencakup segala hal yang menunjang secara tidak langsung pada pencapaian tujuan.

6.      Bidang hubungan dengan masyarakat, berkaitan langsung dengan bagaimana sekolah dapat menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar.

Semua bidang manajemen sekolah ini harus dikelola dengan memperhatikan aktivitas-aktivitas manajerial dan didukung oleh aktivitas pelaksana. Dengan demikian akan terjadi sinergi dalam pencapaian tujuan sekolah.

 

C.    Tujuan Manajemen Sekolah

Tujuan pelaksanaan manajemen sekolah adalah untuk memberdayakan sekolah, terutama sumber daya manusianya (kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, orang tua, dan masyarakat sekitarnya), melalui pemberian kewenangan, fleksibilitas, dan sumber daya lain untuk memecahkan persoalan yang dihadapi oleh sekolah yang bersangkutan. Tujuan utama manajemen sekolah adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Dengan adanya manajemen sekolah, sekolah dan masyarakat tidak perlu lagi menunggu perintah dari pusat/atas. Mereka dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri.

Tujuan Utama manajemen sekolah adalah meningkatkan efisiensi, mutu, dan pemerataan pendidikan. Peningkatan efisiensi diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumber daya yang ada, partisipasi masyarakat, dan penyederhanaan birokrasi. Implementasi manajemen sekolah menuntut dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas agar dapat membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat, serta mengefisiensikan sistem dan menghilangkan birokrasi yang tumpang tindih. Manajemen sekolah memberi peluang pada kepala sekolah dan guru serta peserta didik untuk melakukan inovasi dan improvisasi di sekolah, berkaitan dengan masalah kurikulum, pembelajaran, manajerial, dan lain sebagainya yang tumbuh dari aktivitas, kreativitas dan profesionalisme yang dimiliki.

Lebih rincinya Manajemen sekolah bertujuan untuk:

1.      Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.

2.      Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.

3.      Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orangtua, masyarakat, dan pemerintah tentang mutu sekolahnya.

4.      Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai.

 

D.    Fungsi-Fungsi Manajemen Sekolah

Fungsi manajemen sekolah dilihat dari bentuk masalahnya terdiri dari bidang-bidang substansi dari manajemen sekolah. Masalah-masalah yang merupakan bidang dari manajemen sekolah terdiri dari:

1.      Bidang pengajaran atau lebih luas disebut kurikulum.

2.      Bidang kesiswaan.

3.      Bidang personalia.

4.      Bidang keuangan.

5.      Bidang sarana.

6.      Bidang prasarana.

7.      Bidang hubungan sekolah dengan masyarakat (humas)

Fungsi manajemen sekolah dilihat dari akivitas atau kegiatan manajemen, meliputi:

1.      Kegiatan manajerial yang dilakukan oleh para pimpinan. Kegiatan manajerial meliputi:

a)      Perencanaan,

b)      Pengorganisasian,

c)      Pengarahan,

d)     Pengkoordinasian,

e)      Pengawasan,

f)       Penilaian,

g)      Pelaporan, dan

h)      Penentuan anggaran.

2.      Kegiatan yang bersifat operatif, yakni kegiatan yang dilakukan oleh para pelaksana. Kegiatan ini berkaitan langsung dengan pencapaian tujuan. Artinya, bagaimanapun baiknya kegiatan manajerial (seperti perencanaan) tanpa didukung oleh pelaksanaan pekerjaan yang elah direncanakan tersebut, mustahil tujuan organisasi dapat dicapai dengan baik. Fungsi operatif ini meliputi pekerjaan-pekerjaan:

a)      Ketatausahaan,

b)      Perbekalan,

c)      Kepegawaian,

d)     Keuangan dan

e)      Humas.

Pelaksanaan manajemen sekolah yang efektif dan efisien menuntut dilaksanakan beberapa fungsi manajemen tersebut secara terpadu dan terintegrasi dalam pengelolaan bidang-bidang manajemen pendidikan. Jadi, melalui penerapan fungsi manajemen sekolah yang efektif dan efisien diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan.

 

E.     Prinsip-Prinsip Manajemen Sekolah

Dalam pengelolaan sekolah agar dapat mencapai tujuan sekolah dengan baik, maka perlu mendasarkan pada prinsip-prinsip manajemen sebagai berikut:

1.      Prinsip efisiensi yakni dengan penggunaan modal yang sedikit dapat menhasilkan hasil yang optimal.

2.      Prinsip efektivitas, yakni ketercapaian sasaran sesuai tujuan yang diharapkan.

3.      Prinsip pengelolaan, yakni seorang manajer harus melakukan pengelolaan sumber-sumber daya yang ada.

4.      Prinsip pengutamaan tugas pengelolaan, yakni seorang manajer harus mengutamakan tugas-tugas pokoknya. Tugas-tugas yang bersifat operatif hendaknya dilimpahkan pada orang lain secara proposional .manakala seorang manajer telah melimpahkan tugas kepada orang lain, tanggung jawab tetap ada pada pimpinan.

5.      Prinsip kerjasama, yakni seorang manajer hendaknya dapat membangun kerjasama yang baik secara horizontal

6.      Prinsip kepemimpinan yang efekif, yakni bagaimana seorang manajer dapat memberi pengaruh, ajakan pada orang lain untuk tujuan bersama.

 

I.       Karakteristik Manajemen Sekolah

Manajemen berbasis sekolah memiliki karakteristik yang perlu dipahami oleh sekolah yang akan menerapkannya. Dengan kata lain, jika sekolah ingin berhasil dalam menerapkan MBS, maka beberapa karakteristik MBS perlu dipelajari dan dipahami dengan baik. Membahas karakteristik MBS tidak dapat dipisahkan dengan karakteristik sekolah efektif. Jika MBS dianggap sebagai wadah/kerangkanya maka sekolah efektif merupakan isinya. Oleh sebab itu, karkteristik MBS memuat elemen-elemen sekolah efektif yang dikategorikan menjadi input, proses dan output.

Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya suatu proses. Sesuatu yang dimaksud berupa sumberdaya dan perangkat lunak serta harapan-harapan sebagai pemandu berlangsungnya proses. Input sumberdaya meliputi sumberdaya manusia (kepala sekolah, guru, konselor, karyawan, peserta didik) dan sumberdaya selebihnya (peralatan, perlengkapan, uang, bahan,dsb). Adapun input-input pendidikan antara lain:

1.      Memiliki kebijakan, visi, misi, tujuan, sasaran mutu yang jelas.

2.      Sumberdaya tersedia dan siap.

3.      Staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi.

4.      Memiliki harapan prestasi yang tinggi.

5.      Fokus pada pelanggan (khususnya siswa).

6.      Input manajemen (tugas, rencana, program, ketentuanketentuan, pengendalian/pengawasan).

Proses merupakan berubahnya “sesuatu” menjadi “sesuatu yang lain”. Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses disebut input, sedangkan sesuatu dari hasil proses disebut output. Pada penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah, yang dimaksud dengan proses pendidikan meliputi empat hal yaitu:

1.      Proses pengambilan keputusan.

2.      Proses pengelolaan kelembagaan.

3.      Proses pengelolaan program.

4.      Proses belajar mengajar.

Output pendidikan adalah prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen. Output sekolah dapat diukur dengan kinerja sekolah yang terdiri dari:

1.      Efeketifitas.

2.      Kualitas.

3.      Produktivitas.

4.      Efisiensi.

5.      Inovasi.

6.      Kualitas kehidupan kerja; dan

7.      Moral kerja.

 

J.       Strategi Implementasi Manajemen Sekolah

Hakekatnya, mengubah pendekatan manajemen berbasis pusat menjadi manajemen sekolah bukanlah pekerjaan mudah, tetapi merupakan suatu proses yang terus-menerus dan melibatkan seluruh elemen yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Strategi utama yang digunakan dalam mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah, adalah:

1.      Mensosialisasikan konsep manajemen sekolah kesemua warga sekolah.

2.      Melaksanakan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi sekolah dalam mengubah manajemen berbasis pusat menjadi manajemen sekolah.

3.      Merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan manajemen berbasis sekolah berdasarkan tantangan yang dihadapi.

4.      Mengidentifikasi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan masih perlu diteliti tingkat kesiapannya.

5.      Menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktorfaktornya malalui analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Threat).

6.      Memilih langkah-langkah pemecahan masalah.

7.      Membuat rencana jangka pendek, menengah dan panjang beserta program-programnya.

8.      Melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek MBS.

9.      Pemantauan terhadap proses dan evaluasi terhadap hasil MBS.

 

K.    Kelembagaan dan tata kerja Manajemen Berbasis Sekolah

Manajemen berbasis sekolah yang diwujudkan dalam bentuk pengembangan kemandirian sekolah menuntut penciptaan tatanan dan budaya kelembagaan baru. Hal ini dimaksudkan dengan mencakup:

1.      Pembentukan Dewan Kepala Sekolah yang berfungsi sebagai wadah untuk menampung aspirasi dan kebutuhan stakeholders sekolah, serta badan yang berfungsi untuk membantu sekolah untuk meningkatkan kinerjanya bagi terwujudnya layanan pendidikan dan hasil belajar yang bermutu.

2.      Pengembangan perencanaan strategis sekolah yang menggambarkan arah perkembangan sekolah dalam perspektif 3-4 tahun mendatang. Dalam perencanan ini dirumuskan visi dan misi sekolah, analisis posisi kelembagaan sekolah (kekuatan, kelemahan, peluang dan Tantangan), kajian isu-isu strategis yang dihadapi, perumusan program-program priorits sekolah, perumusan sasaran-sasaran pengembangan sekolah, pencapaian sasaran, pengendalian dan evaluasi pencapaian sasaran pengembangan (M. Bryson, 1995: 82). Perencanaan strategis sekolah dilaksanakan bersama komite sekolah.

3.      Pengembangan perencanaan tahunan sekolah yang menggambarkan kegiatan-kegiatan operasional sekolah disertai perencanaan anggaran pembiayaan sekoalah. Perencanaan tahunan sekolah disusun bersama Komite Sekolah.

4.      Melakukan internal monitoring dan Self-assesment yang dilakukan secara reguler, serta melaporrkan hasilnya dalam forum Kokite Sekolah. Aspek-aspek apa saja yang menjadi perhatian, bagaimana format/instrumennya, dan siapa atau gugus tugas mana yang melakukannya perlu dibahas lebih lanjut. Hasil internal monitoring dan self-assesment ini sangat penting sebagai bahan untuk mengetahui kemajuan sekolah, hasil-hasil dan prestasi yang dicapai dan hambatan-hambatan serta masalah-masalah serius apa yang dihadapi sekolah.

5.      Menyusun laporan tahunan yang menggambarkan pelaksanaan perencanaan tahunan sekolah. Laporan tahunan sekolah dibahas dalam forum dan harus mendapat penerimaan komite sekolah.

6.      Djam’an Satori menambahkan dengan cara melakukan survei pendapat sekolah terhadap stakeholder sekolah.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sistem Evaluasi

Strategi Pembelajaran